Tuesday, 22 January 2013

Sepi yang mesra...

Derapan ranting getah yang patah ditiup angin keras lewat pagi itu, menghenti sejenak tahlilku untuk almarhum ayahanda di perkuburan sepi ini. kulayang sekilas kerling, merentasi tombol-tombol nisan yang kaku berlumut hijau, tersusun rapi, menghadap kiblat. kesepian yang nikmat. Kesunyian yang mesra. Anak-anak kemboja tenggelam timbul, memutih dan memerah dari kejauhan. Sesekali angin berbisik lembut, meliuk dan melentuk daunan jenjuang yang tegak-tegak terpacak disana-sini.

Kesunyian ini, benar terasa ketulenannya. Kesepian yang bukan diatur-atur, tidak dibuat-buat. Ini tahun ketiga kepulangan ayahanda. Dan sejak kepulangan itu, sentiasa kugagah-gagah diri ini menziarahi. Dan dalam tiap ziarah ini, aku menziarahi diriku sendiri sebenarnya. Ingatan kepada ayahanda, adalah kenangan tentang diri. Bisikan-bisikan, angguk-angguk kecil ayahanda, getusan kata-kata keras ayahanda, adalah semua sekali paparan tentang diriku sendiri. Layar cerita jalan hidup ayahanda, adalah layangan keinsananku. Maka, tiap hadir ini, biasa kuakhiri dengan kefahaman. Faham tentang ayahanda, tentang maksud-maksud perlakuannya, tentang tamsil-tamsil tindakannya. Dan dari situ, keinsananku akan bicara. Seperti sebuah lukisan yang satu-satu warnanya bertambah dan bertambah dan bertambah, semakin melengkap dan melengkap dan sempurna.

Kesepian di tanah barzakh ini, adalah kesepian yang abadi. Kesepian yang indah. Di tanah ini, tiada kepuraan yang bakal memedihkan dan memalsukan jalan hidup. Kesepian ini adalah janji yang tidak mungkir. Kesepian ini adalah persediaan, bila nanti aku pulang padaNya. Sungguh benar janji Allah, tiap-tiap yang hidup pasti akan merasai mati. Dan aku sedia, dan rindu, dan redha akan saat pulangku.

Diri ini, yang jalannya bermula janji, di alam rahim ibuku, akan sudahnya nanti, tepat seperti janjiNya. Di alam yang nantinya rohku lena menanti alam penghakiman. Alam yang menentukan keabadianku. Alam yang dijanji Allah dengan berita gembira dan berita derita. Alam abadi yang nantinya menjadi cerminan perjalananku di dunia singkat yang fana ini.

Maha suci Allah yang maha tinggi rahmatNya. Tiada lagi getar gusar dan takut di hati ini. Tinggal mengharap. Tinggal berdoa, tinggal nasuha, tinggal istiqamah mendekati sang Pencipta, mudah-mudahan Dia berpaling menatapku. Mudah-mudahan kotor nafsuku, denai maksiatku, jadi suci dengan kepasrahan taubatku. Mudah-mudahan benih yang kutai dan nyaris menjadi hampas ini kembali segar dan bertunas dan tumbuh, seperti hijaunya tunas padi dicelahan jerami kering bersalut lumpur. Mudah-mudahan.

Sabda Rasulullah SAW; Allah telah berfirman: Aku selalu mengikuti sangka hambaKu, dan Aku selalu menyertai dia, dimana ia ingat kepadaKu. Demi Allah, sungguh Allah lebih senang menerima taubat hambaNya dari seorang yang mendapat kembali barangnya yang telah hilang di hutan. Dan siapa yang mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta, dan siapa yang mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan bila ia datang kepadaKu dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berjalan cepat. ( Bukhari dan Muslim)

Mudah-mudahan.

1 comment:

Don Balon said...

Benar nukilanmu itu wahai sahabat.